MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Latar belakang KH Ahmad Dahlan memilih nama Muhammadiyah yang pada masa itu sangat asing bagi telinga masyarakat umum adalah untuk memancing rasa ingin tahu dari masyarakat, sehingga ada celah untuk memberikan penjelasan dan keterangan seluas-luasnya tentang agama Islam sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah SAW.

Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang dikenal dengan Madrasah Mu'allimin _khusus laki-laki, yang bertempat di Patangpuluhan kecamatan Wirobrajan dan Mu'allimaat Muhammadiyah_khusus Perempuan, di Suronatan Yogyakarta).

Muhammadiyah secara etimologis berarti pengikut nabi Muhammad, karena berasal dari kata Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah, sedangkan secara terminologi berarti gerakan Islam, dakwah amar ma'ruf nahi mungkar dan tajdid, bersumber pada al-Qur'an dan as-Sunnah. Berkaitan dengan latar belakang berdirinya Muhammadiyah secara garis besar faktor penyebabnya adalah pertama, faktor subyektif adalah hasil pendalaman KH. Ahmad Dahlan terhadap al-Qur'an dalam menelaah, membahas dan mengkaji kandungan isinya. Kedua, faktor obyektif di mana dapat dilihat secara internal dan eksternal. Secara internal ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagiab besar umat Islam Indonesia.


Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu'amalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-'alamin dalam kehidupan di muka bumi ini.


Visi Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Qur'an dan as-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqamah dan aktif dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi mungkar di segala bidang, sehingga menjadi rahmatan li al-'alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan menuju terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhai Allah swt dalam kehidupan di dunia ini. Misi Muhammadiyah adalah:


(1) Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah swt yang dibawa oleh Rasulullah yang disyariatkan sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad saw.


(2) Memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat duniawi.


(3) Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur'an sebagai kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia sebagai penjelasannya.


(4) Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Lihat Tanfidz Keputusan Musyawarah Wilayah ke-39 Muhammadiyah Sumatera Barat tahun 2005 di Kota Sawahlunto



Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah

Keinginan dari KH. Akhmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang dapat dijadikan sebagai alat perjuangnan dan da'wah untuk nenegakan amar ma'ruf nahyi munkar yang bersumber pada Al-Qur'an, surat Al-Imron:104 dan surat Al-ma'un sebagai sumber dari gerakan sosial praktis untuk mewujudkan gerakan tauhid.


Ketidak murnian ajaran islam yang dipahami oleh sebagian umat islam Indonesia, sebagai bentuk adaptasi tidak tuntas antara tradisi islam dan tradisi lokal nusantara dalam awal bermuatan faham animisme dan dinamisme. Sehingga dalam prakteknya umat islam di indonesia memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsif-prinsif ajaran islam, terutama yang berhubuaan dengan prinsif akidah islam yag menolak segala bentuk kemusyrikan, taqlid, bid'ah, dan khurafat. Sehingga pemurnian ajaran menjadi piliha mutlak bagi umat islamm Indonesia.


Keterbelakangan umat islam indonesia dalam segi kehidupan menjadi sumber keprihatinan untuk mencarikan solusi agar dapat keluar menjadi keterbelakangan. Keterbelakangan umat islam dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren tidak bisa selamanya dianggap menjadi sumber lahirnya generasi baru muda islam yang berpikir moderen. Kesejarteraan umat islam akan tetap berada dibawah garis kemiskinan jika kebodohan masih melengkupi umat islam indonesia.


Maraknya kristenisasi di indonesia sebegai efek domino dari imperalisme Eropa ke dunia timur yang mayoritas beragama islam. Proyek kristenisasi satu paket dengan proyek imperialalisme dan modernisasi bangsa Eropa, selain keinginan untuk memperluas daerah koloni untuk memasarkan produk-produk hasil refolusi industeri yang melada eropa.


Imperialisme Eropa tidak hanya membonceng gerilya gerejawan dan para penginjil untuk menyampaikan 'ajaran jesus' untuk menyapa umat manusia diseluruh dunia untuk 'mengikuti' ajaran jesus. Tetapi juga membawa angin modernisasi yang sedang melanda erofa. Modernisasi yang terhembus melalui model pendidikan barat (belanda) di indonesia mengusung paham-paham yang melahirkan moernisasi erofa, seperti sekularisme, individualisme, liberalisme dan rasionalisme. Jika penetrasi itu tidak dihentikan maka akan terlahir generasi baru islam yang rasionaltetapi liberal dan sekuler.


1. Faktor Internal


Faktir internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri umat islam sendiri yang tercermin dalam dua hal, yaitu sikap beragama dan sistem pendidikan islam.


Sikap beragama umat islam saat itu pada umumnya belum dapat dikatakan sebagai sikap beragama yang rasional. Sirik, taklid, dan bid'ah masih menyelubungai kehidupan umat islam, terutama dalam lingkungan kraton, dimana kebudayaan hindu telah jauh tertanam. Sikap beragama yang demikian bukanlah terbentuk secara tiba-tiba pada awal abad ke 20 itu, tetapi merupakan warisan yang berakar jauh pada masa terjadinya proses islamisasi beberapa abad sebelumnya. Seperti diketahui proses islamisasi di indonesia sangat di pengaruhi oleh dua hal, yaitu Tasawuf/Tarekat dan mazhab fikih, dan dalam proses tersebut para pedagang dan kaum sifi memegang peranan yag sangat penting. Melalui merekalah islam dapat menjangkau daerah-daerah hampir diseluruh nusantara ini.


2. Faktor eksernal


Faktor lain yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran Muhammadiah adalah faktor yang bersifat eksternal yang disebabkan oleh politik penjajahan kolonial belanda. Faktor tersebut antara lain tanpak dalam system pendidikan kolonial serta usaha kearah westrnisasi dan kristenisasi.


Pendidikan kolonial dikelola oleh pemerintah kolonial untuk anak-anak bumi putra, ataupun yang diserahkan kepada misi and zending Kristen dengan bantuan financial dari pemerintah belanda. Pendidikan demikian pada awal abad ke 20 telah meyebar dibeberapa kota, sejak dari pendidikan dasar sampai atas, yang terdiri dari lembaga pendidikan guru dan sekolah kejuruan. Adanya lembaga pendidikan colonial terdapatlah dua macam pendidikan diawal abad 20, yaitu pendidikan islam tradisional dan pendideikan colonial. Kedua jenis pendidikan ini dibedakan, bukan hanya dari segi tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga dari kurikulumnya.


Pendidikan kolonial melarang masuknya pelajaran agama dalam sekolah-sekolah colonial, dan dalan artian ini orang menilai pendidikan colonial sebagai pendidikan yang bersifat sekuler, disamping sebagai peyebar kebudayaan barat. Dengan corak pendidikan yang demikian pemerintah colonial tidak hanya menginginkan lahirnya golongan pribumi yang terdidik, tetapi juga berkebudayaan barat. Hal ini merupakan salah satu sisi politik etis yang disebut politik asisiasi yang pada hakekatnya tidak lain dari usaha westernisasi yang bertujuan menarik penduduk asli Indonesia kedalam orbit kebudayaan barat. Dari lembaga pendidikan ini lahirlah golongan intlektual yang biasanya memuja barat dan menyudutkan tradisi nenekmoyang serta kurang menghargai islam, agama yang dianutnya. Hal ini agaknya wajar, karena mereka lebih dikenalkan dengan ilmu-ilmu dan kebudayaan barat yang sekuler anpa mengimbanginya dengan pendidiakan agama konsumsi moral dan jiwanya. Sikap umat yang demikianlah tankanya yang dimaksud sebagai ancaman dan tantangan bagi islam diawal abad ke 20.


Sumber Referensi : kunjungi referensi PP Muhammadiyah

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Kudus - Jawa Tengah


Tahun 1964 pimpinan pusat muhammadiyah (PPM) meresmikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, lebih tepatnya pada tanggal 29 Syawal 1384 H atau 14 Maret 1964 M. penandatanganan piagam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah oleh ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada saat itu adalah KH. Ahmad Badawi, peresmian tersebut dilakukan di gedung Dinoto Yogyakarta dengan enam penegasan yaitu : IMM adalah gerakan mahasiswa islam, kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM, fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah, IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hokum, UU, Peraturan, serta dasar dan falsafah negara, ilmu adalah amaliah dan amal adalah amaliah, amal untuk kepentingan rakyat. Pendiri serta pencetus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah Drs. Moh. Djazman Al-Kindi sebagai ketua pertama, pada Muktamar IMM yang pertma pada tanggal 1 sampai 5 Mei 1965 di Solo. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah gerakan mahasiswa islam yang beraqidah islam bersumber Al-Quran dan As-Sunnah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki tujuan yaitu mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah juga memiliki Tri Kompetensi Dasar yaitu Intelektualitas, Humanitas, dan Religiusitas. Untuk Intelektualitas ini memiliki arti yaitu menguasai dan mempelajari ilmu yang banyak dan luas sehingga mahasiswa mampu mengelola suatu informasi dengan benar dan akurat serta mampu mengamalkan sesuai Al-quran dan As-sunnah, untuk Humanitas sendiri memiliki arti bermasyarakat, dengan kata lain humanis itu mengimplementasi kemampuan kita dalam bertingkahlaku, beragama serta memberikan pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan, untuk religiusitas sendiri yaitu bersifat keagamaan, mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tidak hanya memiliki pemikiran yang cerdas dan pengamalan ke masyarakat yang baik tetapi juga memiliki ilmu agama yang baik untuk hablum minannas dan hablum minallah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Kudus terbentuk pada tahun 2012 , ketua umum yang pertama ialah Immawan Shibghotullah. Sekretariat IMM Kabupaten Kudus terletak di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kudus Jl. KH. Noor Hadi No. 32 Kudus. Seiring dengan bergantinya tahun pimpinan umum 2016/2017 di pikul oleh Immawan Himmawan. IMM Kabupaten Kudus terdiri dari 3 Pimpinan Komsariat (PK) yakni, IMM Al-Fikr Universitas Muria Kudus (UMK), Adz-Dzikr Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus dan Ar-Robbani Sekolah Tinggi Ilmu dan Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Kudus.


IMM Ar-Rabbani Stikes Muhammadiyah Kudus, salah satu komisariat yang ada di Kudus. Tepat pada tanggal 31 Mei 2010 secara resmi kepemimpinan pertama PK IMM Ar-Rabbani terbentuk, yang pada saat itu diketuai oleh immawan Shibghatullah dan sekarang di ketuai oleh Immawan Kurnia Sandy Hilmawan. PK IMM Ar-Rabbani memiliki bascamp yang terletak di Jl. Ganesa 1 Purwosari Kecamatan Kota Kabupaten Kudus.


PK IMM Al-Fikr terbentuk pada 7 September 2012 dengan ketua umum pertama kali adalah Immawan Daniar Rohman. PK IMM Al-Fikr memiliki perjalanan panjang, nama Al-Fikr tercetus dengan pengharapan doa dan cita-cita agar kelak organisasi bagian dari Organisasi Otonom Muhammadiyah (Ortom) ini dapat menjadi kader atau generasi penerus yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang hebat, baik dalam ranah religiusitas, intelektualitas dan humanitas. Saat ini Immawan Noor Arif bersama sekretaris, bendahara dan pengurus lainnya yang berada di 7 bidang tersebut dipercaya untuk menjalankan amanah ikatan dalam satu periode 2016/2017. Sekretariat PK IMMM Al-Fikr UMK Peganjaran Blender 1/3 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus.


Seiring berjalannya waktu terbentuklah PK IMM Adz-Dzikr STAIN Kudus yang berdiri tahun 2012. Periode pertama di ketuai oleh Immawan Hasan Fauzi, ke dua oleh Immawan Rowi Masyhad, ke tiga yani Immawan Himmawan, dan ke empat adalah Immawan Choirul Annas. PK IMM Adz-Dzikr STAIN Kudus memiliki bascamp di PDM Kabupaten Kudus.


 


The Team

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kudus mempunyai Pimpinan Cabang dan Tiga Komisariat
(Komisariat AR Rabbani - Komisariat AL FIKR - Komisariat ADZ DZIKR)

Himawan

PIMPINAN CABANG IMM
KANTOR CABANG KUDUS

Contact Person : +6285601317670

Kurnia Sandy Hilmawan

PIKOM IMM AR-RABBANI
STIKES MUHAMMADIYAH KUDUS

Contact Person : +6285600246662

Noor Arif

PIKOM IMM AL-FIKR
UNIVERSITAS MURIA KUDUS

Contact Person : +6285740997105

Choirul Annas

PIKOM IMM ADZ-DZIKR
STAIN KUDUS

Contact Person : +6285740700862

PIMPINAN CABANG IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

Kudus - Jawa Tengah

           

PC IMM Kudus adalah sebuah Tubuh dari berbagai organ-organ yang berasal dari komisariat-komisariat sebagai penyokong sebuah bentuk organime yang utuh, dan miliki nafas yang sama, yaitu nafas kemajuan dan pencerahan. Dinamika yang terjadi di tubuh PC IMM Kudus amatlah beraneka ragam. Persoalan-persoalan yang dihadapi selama periode ini bukanlah penghalang momok untuk di takuti, melaninkan sebuah tantangan yang membuat kami senantiasa bergerak dan melangkah kearah terbitnya sang surya sebagai simbol peradaban yang lebih baik.


Dalam kurun waktu 5 tahun ini terdapat tiga komisariat yang dinaungi PC IMM Kudus terdiri dari Pimpinan Komisariat Ar-Robbani Stikes Muhammadiyah Kudus, Pimpinan Komisariat Al-Fikr Universitas Muria Kudus, dan Pimpinan Komisariat Ad-Dzikr STAIN Kudus. Layaknya sebuah produk, IMM dalam masing-masing perguruan tinggi di Kudus memang belum banyak diminati. Namun, situasi ini membuat tiga komisariat bisa saling bergotong royong mewujudkan tujuan IMM mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Jiwa kebersamaan dan kekeluargaan antar kader lah yang mengobarkan semangat bergotong-royong dalam merevitalisasi (menghidupkan kembali) Ikatan Mahasiswa Muhammadlyah di Kudus yang sempat terhenti kepengurusannya hingga bertahun-tahun dan dibangun kembali pada tahun 2012 sampai sekarang. Berdasar pengalaman tersebut, membuat ikatan lebih menguatkan pondasinya agar wadah dakwah Muhammadiyah lewat ikatan satu ini tidak terhenti. Itu semua dalam rangka membumikan gerakan ikatan untuk menyongsong masa depan berkemajuan.


Pengalaman menghadapi berbagai persoalan, daya gerak dan cara-cara baru masalah akan terdorong dan tercipta. Para pegiat ikatan harus mampu membaca tantangan yang dihadapi secara baik, sehingga mampu menjawab sekaligus bekerja keras dalam mencari jalan keluarnya. Jika ikatan mampu menyelesaikan tiap masalah yang dihadapi, kemudian mengerahkan segala potensi yang dimiliki maka perkembangan ke dapan akan lebih baik. Tugas ini merupakan tanggung jawab kolektif pimpinan dan kader ikatan.


Model kepemimpinan kolektif kolegial menjadi model kepemimpinan dalam ikatan. Hal ini telah menjadi sistem dan baku dalam ikatan Hal yang terkadang jadi masalah adalah implementasinya antara yang ideal dan yang nyata, antara kepentingan individu dan organisasi, antara aktor dan sistem. Misalnya, bagaimana bisa membangun kepemimpinan kolektif kolegial itu dalam mengerahkan seluruh pimpinan agar dapat satu frame, dalam pengambilan keputusan dan lain-lain. Oleh karena itu, dinamika dalam kepemimpinan kolektif kolegial selalu memerlukan kecerdasan, keahlian, pengalaman, dan kearifan dari setiap pemimpin.


IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH AR-RABBANI

Kudus - Jawa Tengah


IMM Ar Rabbani Stikes Muhammadiyah Kudus merupakan salah satu komisariat yang ada dikudus.Sebelum IMM Ar Rabbani terbentuk, di Stikes Muhammadiyah Kudus hanya ada BEM dan beberapa UKM. Pada tahun 2007 mulai ada gagasan untuk mendirikan sebuah komisariat IMM di Stikes, Baru pada tahun 2008-2009 komisariat IMM Ar rabbani didirikan namun, belum mempunyai nama pada waktu itu dan anggota, sehingga keberadaannya hanya sebagai formalitas saja.


Tepatnya pada tanggal 31 Mei 2010 secara resmi kepemimpinan pertama PK IMM Ar rabbani terbentuk, yang pada saat itu diketuai oleh immawan Shibghatullah. Pada saat itu mulai dilakukan perkaderan yaitu dengan mengadakan Masa Ta'aruf atau lebih dikenal dengan Masta yang dilaksanakan setelah masa orientasi mahasiswa oleh BEM. Sampai sekarang IMM Ar rabbani sudah berganti 6 periode sampai tahun 2017 ini, yang diketuai oleh immawan Kurnia sandy himawan. Kemarin pada bulan Februari 2017 PK IMM Ar Rabbani mengadakan DAD atau Darul Arqom Dasar yang dilaksanakan untuk meyiapkan kader ke periode selanjutnya.


Komisariat Ar Rabbani mempunyai 9 bidang yaitu organisasi, kader, riset dan pengambangan teknologi, tablig dan kajian keislaman, social, immawati, ekonomi, media komunikasi dan hikmah. Setiap bidang mempunyai program kerja masing- masing untuk mencapai tujuan komisariat yang sudah ditetapkan dalam musyawarah komisariat. Banyak kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh komisariat IMM Ar rabbani baik di bidang sosial misalnya pemberian shodaqoh dimasjid dan penggalangan dana untuk korban bencana alam. Selain di bidang sosial ada juga kajian keilmuan misalnya kemarin yang diselenggarakan bidang riset tentang pers dan kajian tentang keagamaan lainnya.


IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH AL-FIKR

Kudus - Jawa Tengah


Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al Fikr Universitas Muria Kudus merupakan salah satu dari tiga komisariat yang ada di Kabupaten Kudus. IMM Al-Fikr UMK yang baru berusia kurang lebih 5 tahun ini terbentuk pada 07 September 2012 lalu dengan diprakarsai oleh Kakanda IMMawan Daniar, Rohmat Sabaruddin, Imaduddin Abdur Rokhim dan yang lainnya. Pemberian nama Al Fikr untuk nama komisariat ini merupakan sebuah doa dan cita-cita agar kelak organisasi yang merupakan bagian dari Organisasi Otonom Muhammadiyah ini dapat menjadi kader atau generasi penerus yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang hebat, baik dalam ranah religiusitas, intelektualitas dan humanitas.


Periode kepemimpinan Komisariat Al Fikr Universitas Muria Kudus hingga kini telah mencapai usia setengah dasawarsa. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Al-Fikr mempunyai struktur kepengurusan ketua umum, sekretaris umum, bendahara umum dan 7 bidang, diantaranya bidang organisasi, bidang kader, bidang keilmuan, bidang ekonomi, bidang sosial, bidang tabligh dan kajian Islam, bidang IMMawati. Saat ini IMMawan Noor Arif bersama sekretaris, bendahara dan pengurus lainnya yang berada di 7 bidang tersebut dipercaya untuk menjalankan amanah ikatan dalam satu periode 2016/2017. Dalam satu periode tersebut, IMM Al Fikr menjalankan program-program kerja yang telah dirancang dalam rapat kerja di awal periode yang lalu. Program yang telah terlaksana diantaranya Masa Ta'aruf yang merupakan agenda awal dalam proses perekrutan kader baru, Darul Arqom Dasar yang merupakan kegiatan perkaderan awal tingkat komisariat dan prosesi ikrar untuk IMMawan dan IMMawati anggota baru. Kajian rutin sabtu sore juga merupakan agenda yang menjadi rutinitas setiap minggunya. Di bidang sosial, Immawan dan Immawati juga berperan aktif dalam membantu meringankan beban untuk para korban banjir di kecamatan Jati pada beberapa waktu yang lalu.


IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH ADZ-DZIKR

Kudus - Jawa Tengah


Awalnya beberapa mahasiswa Muhammadiyah yang di STAIN Kudus, UMK, dan STIKES Muhammadiyah Kudus ingin mendirikan IMM cabang Kudus. Namun mendirikan cabang harus mempunyai minimal 2 komisariat. Kebetulan pada saat itu komisariat yang berdiri baru STIKES Muhammadiyah Kudus. Kemudian UMK dan STAIN Kudus mencari kader untuk mendirikan komisariat.


Pada saat itu mahasiswa STAIN Kudus yang mempelopori berdirinya komisariat adalah Kakanda Hasan Fauzi, Abdullah, Rowi Masyhad, Idra, Rosyid dan Ayunda Shofa Rizqy Martita, Dwi Prawati, Laili, Umi Sholihah. Setelah mendapatkan kader yang cukup, kemudian berdirilah komisariat IMM di STAIN Kudus dan diberi nama Adz-Dzikr. Seiring berjalannya waktu, komisariat Adz-Dzikr STAIN Kudus sudah berjalan 4 periode. Periode pertama Immawan Hasan Fauzi, ke dua Immawan Rowi Masyhad, ke tiga Immawan Himmawan, dan ke empat Immawan Choirul Annas.


Kutipan

Kutipan ber-Muhammadiyah memuat tentang gagasan , ide, pendapat serta memberikan motivasi dan semangat untuk ber-Muhammadiyah.

Serta Kutipan ber-IMM menjadi motivasi kinerja semangat tanpa batas.

K.H. AHMAD DAHLAN

Pendiri Muhammadiyah

Din Syamsuddin

Ketua PP Muhammadiyah 2005-2015

Haedar Nashir

Ketua PP Muhammadiyah

Panglima Besar

Jendral Sudirman

Buya Hamka

Sastrawan Muhammadiyah

Kader Muhammadiyah

Kami Bangga Ber-Muhammadiyah

Syafi'i Ma'arif

Tokoh Muhammadiyah

Nurcholish Madjid

Cendekiawan dan Budayawan

MAPING KANTOR IMM KUDUS